Managefy version 1.6.5
Home Kemahasiswaan Peran Mahasiswa UNIB untuk Pendidikan

Peran Mahasiswa UNIB untuk Pendidikan

0
Peran Mahasiswa UNIB untuk Pendidikan

FT_ Tepat pada hari Sabtu (4/9/21) yang lalu dua mahasiswa Universitas Ibrahimy berangkat ke salah satu pondok pesantren yang berada di Kabupaten Bangkalan, untuk mengikuti program KKN Nasional berbasis pesantren yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Abul Hasan Al Asy’ari, selama rentan waktu tiga bulan. Pondok Pesantren ini adalah lembaga pendidikan Islam yang berada di Desa Patengteng Kecamatan Modung Kabupaten Bangkalan Madura yang didirikan pada 24 November tahun 2019 oleh Abuya KH. Hasyim Asy’ari. Diusinya yang masih baru menginjak tiga tahun, sistem pendidikan masih belum seutuhnya dapat mandiri. Untuk pendidikan berbasis keagamaan, semua santri yang telah terdaftar dan menetap mendapatkan pembelajaran di bawah naungan Madrasah Abul Hasan Al Asy’ari. Di dalamnya terdapat empat tingkatan yaitu kelas isti’dat, kelas mustami’, kelas satu dan kelas dua, yang penetuan kelasnya berdasarkan durasi waktu seorang santri menetap di pesantren.

Pada saat peserta KKN tiba lokasi, sistem pembelajaran masih belum seutuhnya terkonsep dengan baik. Pada lima belas hari di bulan pertama, sambil lalu terus berdiskusi untuk memperbaiki dan membangun sistem yang terintegrasi, dua mahasiswa tersebut (M. Fawaied Aqiel Fahmy dan Bachir Pamungkas, red) hanya mengikuti sistem yang ada sebelumnya. Setelah mendapat ijin untuk memperbaiki sistem yang ada, para mahasiswa tersebut melakukan perombakan dan perbaikan secara menyeluruh.

Perbaikan sistem ini dilakukan pada pendidikan yang berada di bawah naungan madrasah. Pada tahap pertama, seluruh santri diwajibkan mengikuti ujian kompetensi untuk menetukan kelas yang baru. Melalui ujian kompetensi tersebut, penetuan kelas bukan lagi berdasarkan durasi waktu, akan tetapi secara ilmiah berdasarkan kemapuan siswa dalam mengusai suatu disiplin ilmu di jenjang masing-masing, baik yang berafiliasi dengan pembelajaran di madrasah atau kompetensi yang menjadi target dari pesantren (Al-Qur’an, Kebahasaan, Ubudiah, red). Setelah terbentuk, tingkatan pendidikan menjadi enam tingkatan yaitu kelas tamhidiyah dengan dua bagian yaitu kelas regular dan kelas intensifkelas satu sampai kelas lima. Namun, setelah dilakukan pengetesan semua santri hanya mampu menempati kelas tamhidiyah sampai kelas dua saja.

Di tahap yang kedua, lebih menyederhanakan mata pelajaran yang ada serta memfokuskan target-target pencapaian di masing-masing kelas dan membuat kurikulum yang koheren dengan cita-cita pengasuh. Tahap selajutnya, membuat program tahfidz dan non tahfid dengan target pencapaian yang berbeda serta membuat program kebahasaan yang terdiri dari program Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Pimpinan pesantren (Abuya Hasyim, red) menyampaikan “Saya sangat berterima kasih kepada antum berdua (Mahasiswa UNIB, red) atas pengabdian dan semua program yang kalian lakukan di pesantren ini”, dawuhnya. Untuk sekolah diniyah dilaksanakan di pagi hari dari pukul 08.30 sampai 10.30 dan malam hari pada pukul 19.30 sampai 20.30 wib. Sementara itu, tenaga pengajar yang membantu berjalannya proses pembelajaran merupakan guru tugas yang berasal dari pondok pesantren lain, berdasarkan hasil MoU antara Pondok Pesantren Abul Hasan Al- Asy’ari dengan berbagai pondok pesantren di Jawa Timur.

Dari semua santri yang menetap di pesantren, ada sebagian santri yang bersekolah di luar pondok pesantren, terutama bagi mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan bagi santri yang berada di jenjang SMP dan SMA sudah bisa melakukan pembelajaran di dalam pesantren. Namun, waktunya hanya satu minggu sekali yaitu pada hari Jum’at.

Agar dalam belajar para santri tidak merasa bosan, mereka juga diberikan waktu khusus untuk ekstrakulikuler pada hari Minggu. Kegiatan tersebut, memiliki berbagai kelas, mulai dari pacuan kuda, memanah, sepak bola, tenis meja dan renang. Sesuai dengan misi Pondok Pesantren Abul Hasan Al- Asy’ari yaitu “Mencetak santri yang ahli dzikir dan ahli fikir” untuk Pendidikan berbasis rohani, Abuya Hasyim mewajibkan kepada seluruh santri agar selalu istiqomah membaca aurod-aurod pesantren yang telah ditentukan serta memberikan pendidikan khusus menggunakan kitab-kitab klasik yang dilaksanakan setiap selesai sholat subuh.

FWDMahasiswa FT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here