Siap memimpin berarti siap untuk menerima seluruh risiko amanah, jabatan, lingkungan kerja, berbagai ragam pemikiran, kritik, tuntutan, dan lain sebagainya yang mengarah pada diri seorang pemimpin. Kayaknya sudah menjadi permakluman umum, perubahan itu sesuatu yang pasti, bahkan tanpa direncanakan pun perubahan akan terjadi. Kata lain yang bisa “ditangkap”, perubahan itu sunatullah.
Salah satu ayat al-Qur’an, yang terjemahannya populer, dan sering kita dengar adalah “sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu qaum, kecuali qaum itu sendiri yang merubahnya”, kira-kira begitu. Dalam kesempatan menyampaikan orasi ilmiah pada acara wisuda Institut Agama Islam Ibrahimy Sukorejo [kala itu, entah wisuda yang ke berapa), Prof.Dr. KH. Malik Madani memberikan tafsir kata “anfusihim” dengan kesiapan mental, karena anfus itu bisa dimaknai mental jiwa. Dengan begitu perubahan dengan segala prosesnya dibutuhkan sikap dan mental untuk menerima serta merencanakannya. Kita sering menyebutkan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya.
KHR. Ach. Fawaid As’ad, pengasuh ketiga pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, pemimpin sentral dalam penyelenggaraan pesantren, dalam berbagai kesempatan sering menyampaikan, jika kita akan merubah keadaan, lingkungan, dan sistem, yang perlu disiapkan adalah kesiapan mental kita dalam menyikapi. Saya tahu kalau perubahan itu pasti terjadi, dawuhnya. Jangan latah dengan keadaan yang baru datang, jangan kaget dan suka terheran-heran dengan realita atau fakta baru yang terjadi di sekitar kita. Saya bisa saja melangkah cepat, bahkan lari kencang dalam memimpin, tapi apa sudah siap untuk lari, apalagi melompat, yang kesemuanya akan berhadapan dengan resiko. Saya ini bukan pendiri pesantren, tapi meneruskan amanah pesantren. Ada tugas dan tanggung jawab menjaga, memelihara, dan merespon terhadap dinamika perubahan. Kesemuanya untuk kemajuan, bukan sekedar perubahan. Tapi, menyertai rencana perubahan, kita tidak boleh alergi dengan kenyataan di sekitar kita, bukan sekedar lingkungan fisik, tetapi dinamika lingkungan skala besar, nasional mapun internasional. Bantu saya, kolektifitas kerja dan tanggung jawab bersama harus menjadi “rasa” kita dalam mengelola lembaga besar ini. Saya senang sekali, mengapresiasi setiap gagasan, pemikiran, bahkan kritik yang berkembang. Tidak mungkin saya bekerja/berhidmat sendirian. Kalian semua adalah mitra pengabdian saya dalam mengemban amanah pesantren ini, dawuh beliau dalam beberapa forum rapat.
Fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallah, setelah kita sepakat dalam musyawarah, bulat dalam keputusan, kita harus mengawalnya untuk memastikan keberlangsungan kesepakatan yang sudah ditetapkan. In sha Allah kita (umana’ pesantren, santri, alumni, dan simpatisan) sebagai pengikut kepemimpinan Kiai Fawaid, merasakan sikap tegas dan lugas dalam menjaga setiap keputusan musyawarah. Jangan cuma diputuskan dalam rapat, tapi tidak ada tindak lanjut untuk mengawal pelaksanannya, begitulah yang sering kita dengar dari beliau, itu sama saja pembiaran dalam menjaga amanah rapat yang sudah diputuskan. Makanya saya sering menyampaikan, sebagai peserta rapat saya memiliki hak bicara yang sama dalam forum, jangan dipahami kalau saya bicara itu keputusan rapat, dawuh beliau dalam setiap rapat. Jika rapat sepakat dengan perubahan, maka pastikan langkah responnya dalam menangkap kemungkinan resiko yang terjadi. Dan, tolong bantu saya untuk menjaga hal-hal prinsip di pesantren, sekalipun dunia ini menuntut perubahan. Konsistensi dan menjaga keistiqamahan itu berat, kebersamaan kalian dengan saya itu menjadi penting sebagai sikap kehati-hatian saya, kata beliau yang juga sering terdengar. Kapabilitas itu harus dibarengi dengan loyalitas agar berjalan dengan baik. Sekali lagi, saya menghormati tuntutan perubahan, tetapi kita harus siap mental untuk mengelola perubahan.
Untuk almaghfurlahu, AL FATIHAH
Pagi ini dalam suasana hujan, Sukorejo 10 Ramadhan 1445 H.
Oleh : Dr. Maskuri Ismail, M.Pd.I